Debutnya di Tanah Air sudah lekat
di layar kaca, seperti dalam tayangan film dokumenter hitam putih, Bren tak
asing menjadi senjata yang dibopong oleh para Pejuang Kemerdekaan RI. Dalam
Perang Kemerdekaan Indonesia, Bren adalah senapan mesin yang digunakan tentara
Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies).
Senapan mesin ini banyak digunakan oleh tentara AFNEI dalam
pertempuran-pertempuran dengan pasukan Indonesia, seperti dalam Peristiwa 10
November tahun 1945 di Surabaya.
Dan bila merujuk ke sejarahnya,
nama Bren berasal dari Brno, kota di Cekoslowakia dimana senjata Zb vz. 26 awal
dirancang, dan Enfield, sebuah daerah di Inggris tempat berdirinya pabrik
senjata Royal Small Arms Factory. Seperti halnya RPD, Bren juga menggunakan
kaliber 7,62 mm, bedanya jika RPD mengadopsi amunisi kaliber 7,62 x 39 mm, maka
Bren mengacu ke kaliber NATO, yakni 7,62 x 51 mm. Usia jelas tua, tapi kalai
kinerja masih dianggap apik, menjadika senjata yang sudah jadi etalase museum
ini masih terus dipercaya. Ditambah amunisi Bren tak asing di lingkungan TNI,
dirunut dari kalibernya, amunisi Bren sama persis dengan yang digunakan pada FN
MAG GPMG (General Puspose Machine Gun), yang artinya dari aspek logistik tak
jadi soal karena amunisi sudah diproduksi oleh PT Pindad.

Bobot Bren memang tak ringan,
mungkin bisa dibilang tak ergonomis untuk postur orang Indonesia. Seperti Bren
MkI tanpa peluru beratnya 10,3 kg, sedangkan bila berisi peluru mencapai 11,25
kilogram, varian lainnya yaitu Bren MkII/MkIII memiliki bobot yang lebih ringan
yaitu sekitar 8,7 kilogram tanpa peluru dan 9,75 kilogram dengan peluru.
Panjang dari senjata Bren Mk II/Mk III sekitar 1,1 meter, sedangkan versi MkI
memiliki panjang 1,2 meter. Panjang laras Bren sekitar 63 cm.
Dalam SOP-nya, Bren dioperasikan
oleh dua personel (satu orang sebagai penembak dan satu lagi bertugas untuk
mengganti magasin senjata). Dengan bipod yang terintegrasi, biasanya senjata
ini dioperasikan dengan disandarkan pada tanah. Dalam satu menit, Bren dapat
menembakkan 500 – 520. Sementara proyektil saat baru ditembakkan mencapai 745
meter per detik dengan jarak efektif sekitar 500 meter dan jarak tembak
maksimal 1,5 km.

Bren dapat menggunakan 3 jenis
magasin, yaitu magasin isi 20 peluru, magasin isi 30 peluru berbentuk kotak,
dan magasin isi 100 peluru yang berbentuk seperti panci (drum). Bren memakai
sistem bidikan manual (iron sight), pada masanya senjata ini pada masa perang
dunia kedua terkenal karena konsistensi dan akurasinya. Senjata ini biasanya
dipakai sambil tirap dengan senjata ditopang oleh bipod atau tripod, namun ada
juga orang yang menggunakannya sambil bergerak. Selain itu senjata ini juga
bisa dipasangkan pada dudukan senjata yang ada pada mobil prajurit, sehingga
memungkinkan penggunaan senjata sambil berkendara.
Bren pertama kali dirilis untuk
AD Inggris pada tahun tahun 1935, dan produksinya dimulai pada tahun itu juga.
Varian Bren MKI yang paling pertama mulai digunakan tentara Inggris tahun 1938
pada masa-masa perang dunia kedua. Beberapa varian terus dikembangkan, seperti
Bren MKII/MKIII dan MKIV, hingga akhirnya produksi Bren resmi dihentikan pada
tahun 1971. Bren Mk II adalah versi lebih simpel dari Bren Mk I. Bipodnya tidak
memiliki perpanjangan kaki yang berlebihan, sehingga berbentuk seperti hutuf
“A” dengan kaki yang tidak terlalu panjang. Bren versi ini juga memiliki rasio
tembakan per menit yang lebih besar dibandingkan versi sebelumnya. Selain itu
detail kayu pada versi ini juga dibuat lebih simpel sehingga dapat menyingkat
waktu produksi senjata. Bren Mk III diproduksi tahun 1944, desain dan
spesifikasinya sangat mirip dengan Mk II, hanya saja Bren MKIII sedikit lebih
ringan dan lebih pendek.

Mau tanya soal battle proven?
Rasanya tak perlu, pasalnya Bren sudah terbilang buyut dalam banyak palagan
pertempuran global. Di Indonesia, selain digunakan Brimob Polri, Bren MKIII
juga digunakan secara terbatas oleh TNI AD. Pada konflik SARA di Maluku tahun
2002, SatBrimob Polda Maluku kehilangan ratusan senjata dan ribuan amunisi, nah
diantara yang hilang (dijarah) saat itu adalah adalah Bren MKIII. Sebagai
senjata yang punya nilai sejarah tinggi, Anda yang di tinggal di DKI Jakarta
bisa melihat dari dekat Bren di Museum Satria Mandala dan Museum Polri.
(dari : https://www.indomiliter.com)